IGOS Summit 2: Masa Depan Teknologi Open Source di Indonesia

Pada tahun 2004, Indonesia mulai mengambil langkah signifikan dalam dunia teknologi lewat inisiatif Indonesia Goes Open Source (IGOS). Lima lembaga besar—Depkominfo, Depdiknas, Depkumham, Menpan, dan KNRT—turut dalam deklarasi tersebut, dengan tujuan membantu negara ini lepas dari ketergantungan software berlisensi yang mahal (dan kadang ilegal) menuju solusi yang lebih terbuka dan terjangkau. Meskipun belum sempurna, inisiatif ini tetap menunjukkan komitmen kuat untuk membuka jalan menuju masa depan teknologi yang lebih merata dan inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Mengapa IGOS Summit itu Penting?

Sejak pertama kali diadakan, IGOS Summit berfungsi sebagai platform yang memperkuat komitmen kolektif dari pemerintah, komunitas teknologi, hingga masyarakat umum. IGOS Summit pertama pada 1996 menetapkan Grand Skenario OSS (Open Source Software) tahun 2010-2014, di mana semua instansi pemerintah didorong untuk beralih ke software open source dalam operasionalnya dan penyediaan solusi publik. Kini, IGOS Summit 2 akan kembali hadir pada 27-28 Mei 2008 di Jakarta City Center (JaCC), Tanah Abang, Jakarta. Melalui seminar, workshop, dan talkshow interaktif, acara ini diharapkan bisa membangun semangat baru di kalangan masyarakat, dunia pendidikan, hingga sektor bisnis untuk lebih akrab dengan open source.

Jadwal Kegiatan IGOS Summit 2

Agenda IGOS Summit 2 dipenuhi berbagai acara yang bermanfaat, yang berfokus pada penerapan solusi open source di berbagai sektor. Berikut rangkaian acara yang bisa Anda ikuti:

Selasa, 27 Mei 2008

  • 09.00-10.00 – Registrasi Peserta Seminar & Workshop
  • 10.00-10.30 – Pembukaan IGOS Summit 2
  • 10.30-10.45 – Penyerahan Penghargaan Apresiasi IGOS
  • 10.45-11.00 – Penandatanganan Deklarasi IGOS 2
  • 11.00-12.00 – Press Conference
  • 12.00-13.00 – Istirahat dan Makan Siang
  • 13.00-16.00 – Talkshow: “Open Source sebagai Solusi Penggunaan Software Ilegal”
    Pembicara: Kombes Petrus R. Golose, Andy Noorsaman Sommeng, Anjar Hardiena, Donny A. Sheyoputera
    Moderator: Cahyana Ahmadjayadi

Rabu, 28 Mei 2008

  • 08.30-09.00 – Registrasi Peserta
  • 09.00-10.00 – Talkshow: “Independensi dan Perlindungan Data Bagi Pemerintah dengan Open Document Format (ODF)”
    Pembicara: Engkos Koswara, Armein Langi, Ang Djok An
    Moderator: Romi Satrio Wahono
  • 10.00-12.00 – Talkshow: “Keuntungan Penggunaan Open Source di Pemerintahan, Pendidikan, dan Bisnis”
    Pembicara: Bupati Jembrana, Harry Sufehmi, Bambang Nurcahyo Prastowo
    Moderator: Soegiharto Santoso
  • 13.00-15.00 – Workshop & Demo: “Next Generation Network (NGN)/VOIP dan ENUM Berbasis Open Source”
    Pembicara: Onno W. Purbo
  • 15.00-15.30 – Pengumuman dan Pemberian Penghargaan Kompetisi FOSS Tingkat SMP dan SMA
  • 15.30-16.00 – Penutupan oleh Idwan Suhardi

Manfaat Open Source bagi Indonesia

Beralih ke software open source membawa banyak manfaat bagi negara berkembang seperti Indonesia. Salah satunya adalah kemandirian teknologi. Dengan open source, kita nggak lagi bergantung pada perusahaan besar yang memonopoli software berlisensi. Open source juga lebih terjangkau dan legal, mengurangi risiko penggunaan software bajakan yang masih merajalela di Indonesia.

Selain itu, open source mendorong inovasi lokal karena kode sumbernya terbuka untuk dikembangkan. Ini bisa jadi ruang bagi pengembang-pengembang lokal untuk belajar dan berinovasi, bahkan membuka peluang kerja di dunia teknologi.

Bagaimana Kita Bisa Mendukung IGOS?

Dukungan terhadap IGOS bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Bagi yang punya usaha warnet atau baru mulai bisnis digital, kenapa nggak coba pakai Linux dan sistem open source lainnya? Selain lebih hemat biaya, open source juga memberi perlindungan lebih baik dari malware dan ancaman siber lainnya yang sering mengincar software bajakan.

Ingin tahu lebih lanjut tentang penerapan open source di warnet atau institusi Anda? Jangan lupa mampir ke stand pameran AWALI (Asosiasi Warnet Linux & Open Source Indonesia) di IGOS Summit 2 ini.

Jadi, apakah Anda siap mendukung masa depan teknologi Indonesia yang lebih terbuka dan inklusif?

Kamu mungkin juga menyukai

5 Komentar

  1. Pak Anjar… mohon disampaikan tentang pemberian tekanan kepada Departemen Keuangan RI yang sampai sekarang hanya mengembangkan aplikasi under foxpro dan visual basic. Celakanya aplikasi itu dipaksakan kepada seluruh instansi (baik swasta maupun pemerintah selain Depkeu) yang berhubungan atau mempunyai kebutuhan dengan Depkeu. Mungkin kata kunci ini bisa dijadikan start untuk menjadi bukti pemaksaan itu. Kata kunci tsb adalah…
    Aplikasi SPM (Surat Perintah Membayar), RKAKL, SAKPA, SAKPB, e-SPT, dan masih banyak lagi yang semuanya dipaksakan untuk dipakai bila mau berhubungan dengan Depkau baik di pusat maupun daerah. Tentu ini sangat menghambat perkembangan perjuangan kita untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap microsoft windows.

    salam,
    denic wibowo
    staf Departemen Keuangan RI

  2. Betul sekali mas denic, saat ini sebagian besar instansi masih menggunakan aplikasi yang tidak linux friendly termasuk di Departemen Keuangan, dan sebagian besar aplikasi tersebut adalah aplikasi tailor-made yang dibuat oleh programmer-programmer yang mayoritas adalah programmer yang sejak awal di besarkan oleh “windows”.

    Alangkah baiknya aplikasi-aplikasi yang sekarang ini digunakan secara perlahan di ubah menjadi aplikasi yang mendukung multiplatform seperti java. Atau minimal membuat aplikasi dengan menggunakan software yang bisa lintas platform seperti Lazarus yang apabila dibutuhkan dapat dengan mudah untuk di konversi ke sistem operasi lain seperti Linux.

    Mudah-mudahan programmer-programmer mitra pemerintah ini menyadari kesalahannya dan mau sedikit bersusah payah untuk kemajuan bangsa ini. Selain itu bukankah pada saat perusahaan/instansi memulai suatu proyek ada standar tertentu yang harus di jalankan oleh mitra (vendor) nya dan multiplatform ini adalah satu hal yang perlu ditekankan pada saat merencanakan pembuatan aplikasi sebagai salah satu pandangan kedepan agar tidak terjadi pemborosan proyek? Ataukah para pengambil keputusannya yang tidak mengerti tentang aplikasi yang akan dibuat dan hanya mengikuti apa kata mitra (vendor) ? Apa kata dunia? kekeke . . .

  3. betul mas anjar, di DJP ajah sistem pelaporan elektronik (eSPT) yg notabene dibangun dr VB yg berback-end Access, bener2 tidak netral.
    Padahal output-nya bisa distandarkan format XML, bukannya pakai CSV seperti selama ini.
    Kapan ya ada pelatihan openSource Programming ?

  4. Kenapa Tidak menggunakan Python atau lazarus atau gambas yang bisa kita manfaatkan untuk pembangunan application under linux … tinggal keterbiasaan aja kok.untuk mengoprasionalkan program tersebut… mau gampang lagi udah kesiniin source codenya biar saya conver ke bahasa itu 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *