Belakangan ini, seorang teman kasih kritik yang lumayan ngena buat saya. Katanya, “Mas Anjar, tulisan-tulisan di blognya bagus, tapi kok rasanya agak berat sebelah, seolah memojokkan produk tertentu, ya?” Waktu itu, saya tanggapi santai—anggap aja masukan, toh dia juga nggak bermaksud jelek.
Tapi setelah saya renungkan lagi, jadi mikir, apa iya saya berat sebelah? Lalu, pertanyaan yang lebih besar muncul: mungkin nggak sih saya bisa benar-benar netral dalam setiap tulisan? Seolah-olah bisa lepas dari preferensi, dari sudut pandang yang selalu kita bawa.
Apa Itu Netral?
Pertama, kita coba gali dulu arti dari “netral.” Di Dictionary.com, definisi netral yang relevan kira-kira adalah “not aligned with or supporting any side or position in a controversy,” alias nggak memihak atau mendukung salah satu sisi dalam suatu konflik atau kontroversi. Sekilas terdengar gampang, tapi kalau dipikir lebih jauh, mungkin nggak sih buat benar-benar netral?
Soalnya, buat benar-benar netral itu kayak diminta melepaskan diri dari emosi, preferensi, bahkan pengalaman pribadi kita. Ibaratnya, kita harus bisa bilang “saya netral” tanpa embel-embel subjektifitas. Tapi, apa ini realistis? Kita semua datang dari latar belakang, pengalaman, dan cara pandang yang udah terbentuk sepanjang hidup. Dan susah banget buat bener-bener “lepas” dari semua itu.
Contoh Netralitas di Media: Mungkin Nggak?
Ambil contoh media massa—koran atau portal berita. Ada nggak sih media yang benar-benar netral? Kalau menurut saya, nggak ada media yang sepenuhnya netral. Yang ada, media yang berusaha netral. Saat wartawan nulis berita, apa yang dia tulis, angle mana yang dia ambil, semua itu pasti dipengaruhi sama pandangannya sendiri. Begitu juga editor yang memutuskan apa layak tayang dan apa yang nggak.
Lalu, faktor eksternal kayak pembaca, lingkungan, bahkan pemerintah juga sedikit-banyak memengaruhi. Kita sebagai pembaca pun punya bias. Pilihan kita buat baca berita tertentu udah nunjukin preferensi kita. Jadi, bahkan dari sisi penerimaan berita, kenetralan itu udah keganggu—bukan karena tulisannya, tapi karena filter yang udah ada di pikiran kita sebagai pembaca atau penonton.
Menulis Blog dengan Netralitas: Bisakah?
Kembali ke pertanyaan utama: Bisakah saya nulis blog dengan netralitas? Dari hati kecil, saya ingin bilang, “Saya bisa, dan saya bakal berusaha netral.” Tapi, hasil akhirnya gimana? Itu tergantung dari perspektif pembaca. Setiap orang punya latar belakang dan cara berpikir berbeda. Tulisan saya mungkin netral bagi satu orang, tapi bisa jadi berat sebelah bagi yang lain. Karena kenetralan bukan cuma tentang penulisnya, tapi juga soal gimana tulisan itu diterima pembaca.
Saya pribadi percaya kalau nggak ada pemikiran yang benar-benar netral. Setiap orang, termasuk saya, punya preferensi atau cara pandang yang sedikit banyak memengaruhi tulisan. Itulah kodrat kita sebagai manusia—nggak mungkin bisa lepas dari nilai-nilai yang kita pegang.
Netralitas: Mungkinkah atau Hanya Ideal?
Di ujungnya, saya rasa 100% netralitas itu ideal, bukan realitas. Kita semua punya opini, perspektif, dan hal itu akan selalu tercermin dalam tulisan, nggak peduli seberapa keras kita berusaha objektif.
Apakah salah kalau tulisan saya dianggap berat sebelah? Bagi saya, nggak masalah selama saya berusaha menyajikan informasi seakurat mungkin dan membiarkan pembaca mengambil kesimpulan sendiri. Dalam dunia blogging, yang penting bukan soal apakah saya bisa netral, tapi bagaimana saya ngajak pembaca lihat dari berbagai sisi dan biarin mereka mikir serta nilai sendiri.
Toh, setiap orang itu unik, dengan latar belakang yang berbeda. Jadi, nggak heran kalau satu tulisan bisa dianggap netral oleh seseorang tapi berat sebelah oleh orang lain. Mungkin, yang paling penting bukan apakah kita bisa netral, tapi apakah kita berusaha adil dan kasih ruang buat diskusi yang sehat.
Itulah pemikiran saya. Bagaimana menurut Anda? Mungkinkah kita benar-benar bisa netral?
2 Komentar
Pak, saya yakin anda juga akan membaca posting ini, atau saya cuma terlalu yakin? Maaf pak, tidak ada maksud untuk apa-apa dengan tulisan ini, tidak ada dan tidak pernah. Saya cuma tergelitik dengan pertanyaan bapak dan tidak ada maksud lain.
Anyway, ini cuma obrolan ringan kok, tapi kok klo saya telusurin lagi beneran apa ngga tulisan ini netral, kok jadi keliatan klo tulisan inipun sebenarnya tidak netral karena seolah-olah saya berargumentasi untuk membenarkan pendapat saya (benerkan keliatan jadi ga netral tulisannya? kekkeke). Ah pusing saya, whatever lah, yang jelas seperti saya katakan ditulisan ini, bahwa tulisan ini saya buat senetral mungkin.
Mohon maaf klo memang tidak senetral yang diharapkan.
garis batas antara netral dan tidak punya pendapat itu tifis yo.. 🙂
klo netral tdk py rasa, sy akan memilih utk tdk netral. sy penyuka manis soalnya. 🙂