Terkadang, ide-ide iseng bisa membawa kita ke pengalaman yang tidak terduga. Begitulah cerita saya ketika memutuskan untuk bereksperimen dengan sebuah laptop yang bisa dibilang layak masuk museum.
Ya, Anda tidak salah dengar. Laptop yang mungkin sudah sepantasnya menjadi barang antik ini saya jadikan proyek iseng untuk mencoba sejauh mana saya bisa menghidupkannya kembali. Dan hasilnya? Menakjubkan!
Laptop Jadul Seharga 150 Ribu – Apakah Masih Ada Harapan?
Kisah ini dimulai ketika saya membeli laptop rongsok milik seorang teman. Harganya? Tidak perlu tertawa, hanya 150 ribu rupiah! Laptopnya? Sebuah Fujitsu FM V-5100 NC/S yang sudah kehilangan banyak bagian penting. Tidak ada docking, tidak ada baterai, dan hanya bisa menyala jika dicolok ke listrik. Floppy disk? Tidak ada. CD-ROM? Tidak ada. USB? Apalagi. Bahkan, LAN card pun absen. Secara teknis, laptop ini benar-benar terisolasi dari segala perangkat modern. Spesifikasinya juga tidak terlalu mengesankan: Pentium 100, RAM 64MB, dan hard disk sebesar 4GB. Itu saja. Bahkan sistem operasinya masih menggunakan Windows 95, yang jalannya pun sudah tersendat-sendat.
Bagaimana Caranya Install OS?
Dengan kondisi laptop yang begitu terbatas, saya harus berpikir kreatif. Bagaimana caranya menginstall sistem operasi, terutama Linux, di mesin yang tidak memiliki floppy, CD-ROM, USB, atau LAN card? Salah satu solusi yang terpikirkan adalah membongkar hard disk dan memindahkannya ke laptop lain untuk diisi OS. Sayangnya, di laptop ini, membongkar hard disk tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk bisa mengakses hard disk, saya harus membongkar seluruh laptop! Setelah proses yang cukup melelahkan, akhirnya saya berhasil mencabut hard disk 4GB tersebut.
Hard disk tersebut kemudian saya bawa ke kantor dan memasangnya di laptop yang lebih modern dan lebih mudah untuk dibongkar. Di sinilah petualangan sesungguhnya dimulai.
Distro Linux yang Pas untuk Laptop Jadul?
Awalnya, saya berpikir untuk menginstall Damn Small Linux (DSL), sebuah distro Linux yang dikenal ringan dan cocok untuk komputer dengan spesifikasi rendah. Setelah mendownload dan mencobanya, saya agak kecewa karena tampilan DSL versi terbaru sudah terlalu “Windows-look alike.” Padahal, saya menginginkan sesuatu yang lebih sederhana dan khas, seperti versi lama yang menggunakan Fluxbox.
Akhirnya, saya kepikiran untuk mencoba Zencafe. Zencafe adalah distro Linux yang dirancang untuk warnet (internet cafe) dan dikenal cukup ringan. Sepertinya ini bisa menjadi pilihan tepat untuk eksperimen saya.
Proses instalasi di laptop kantor berjalan lancar. Setelah selesai, saya pasang kembali hard disk tersebut ke laptop Fujitsu yang jadul. Dengan harap-harap cemas, saya nyalakan laptop tersebut. Dan apa yang terjadi? Tentu saja, tidak langsung sukses. Laptopnya tidak mau masuk ke tampilan GUI (Graphical User Interface).
Memecahkan Masalah Grafis – Berjuang dengan Xorg.conf
Saat menghadapi masalah ini, insting teknisi saya mulai bekerja. Saya langsung berpikir untuk mengedit file xorg.conf, yang bertanggung jawab atas konfigurasi grafis di Linux. Saya ubah driver grafisnya menjadi VESA, driver universal yang biasanya bisa bekerja dengan hampir semua kartu grafis. Namun, sayangnya, upaya ini juga tidak berhasil. Masih belum bisa masuk GUI.
Kemudian, saya penasaran, kartu grafis apa yang sebenarnya digunakan laptop ini? Saya jalankan lspci untuk melihat perangkat yang terpasang. Ternyata, laptop ini menggunakan kartu grafis Neomagic. Dengan sedikit harapan, saya kembali mengedit xorg.conf dan mengganti driver ke Neomagic. Setelah mencoba lagi, tetap saja belum berhasil masuk ke GUI. Mungkin ini masalah di kedalaman warna (color depth)?
Solusi yang Sederhana – Turunkan Depth ke 16-bit
Akhirnya, saya memutuskan untuk menurunkan kedalaman warna dari 24-bit ke 16-bit. Maklum, laptop jadul seperti ini mungkin kesulitan menangani tampilan grafis yang terlalu “berat”. Dan ternyata benar saja! Logo Zencafe muncul di layar dengan bangga. Laptop ini akhirnya bisa masuk ke GUI.
Performanya? Lumayan, Tapi Jangan Harap Lebih
Setelah berhasil masuk GUI, saya mulai mencoba beberapa aplikasi. Mousepad dan Abiword – aplikasi ringan untuk teks – berjalan dengan cukup baik. Tidak terlalu cepat, tapi cukup untuk kebutuhan dasar. Namun, saat mencoba OpenOffice, barulah saya merasakan “beratnya” spesifikasi laptop ini. OpenOffice memang bisa dibuka, tapi performanya sangat lambat. Seperti yang sudah saya duga, laptop dengan spesifikasi seperti ini memang tidak bisa diharapkan untuk menjalankan aplikasi yang lebih berat.
Kesimpulan – Zencafe di Komputer yang Harus Masuk Museum
Terlepas dari segala keterbatasan, eksperimen ini membuktikan bahwa Zencafe masih mampu berjalan di komputer dengan spesifikasi yang benar-benar rendah. Laptop Fujitsu FM V-5100 NC/S yang saya coba mungkin sudah pantas masuk museum, tapi dengan sedikit usaha dan kreativitas, ia masih bisa berfungsi dengan cukup baik.
Jadi, jika Anda punya komputer atau laptop jadul yang sudah tidak terpakai, jangan buru-buru membuangnya. Cobalah bereksperimen dengan distro Linux yang ringan seperti Zencafe, dan lihat sejauh mana Anda bisa menghidupkan kembali mesin yang sudah dianggap kuno ini.
Panggilan untuk Bertindak – Bagaimana dengan Laptop Anda?
Apakah Anda punya komputer atau laptop lama yang menganggur di rumah? Jangan biarkan debu menguasainya! Cobalah menghidupkannya kembali dengan sistem operasi yang ringan seperti Zencafe. Siapa tahu, Anda bisa memberikan “napas baru” pada perangkat yang sudah lama dilupakan. Bagikan pengalaman Anda atau pertanyaan Anda di kolom komentar di bawah ini, dan mari berdiskusi tentang teknologi jadul yang masih bisa dioptimalkan!
21 Komentar
wow kereeennnn..!!
hehehe aku nyari laptop kayak gituh dah susah om..xixixi
mayan buat experiment..
zencafe 1.0 masih nempel dengan indahnya di laptopkuw walau tanpa compiz tapi tetep cuantiq di poles ala aple berkat bantuan om anjar hehehe tengkiw om..
Zencafe I love it
Wuaaa mantap deh…. BTW kenapa ga pake Zencafe 1.2 om? klo pake VGA laptopnya udah support 3D tentunya pake compiz-fusion udah bukan mimpi lagi, lagipula compiz transparent udah default di Zencafe 1.2 ga perlu VGA 3D asal udah support tinggal aktivin doang.
pengen sih om pake Zc 1.2 dengan compiznya, tapi kayaknya vganya ini gk support, dulu pernah minta bantuan om anjar kan hehehe tapi teuteup tak bisa. ndak apa pa lah di laptopmah ZC 1.0 aja, udah sedep rasa apple,hehehe.. ZC 1.2 udah di install di desktop, cuma sekarang lagi pengen nyoba LTSP-nya om, kmaren liat LTSPnya edubuntu lumayan muantaf, LTSP ZC juga pengen nyoba di implementasikan :d,
om minta referensi tutorial LSTPnya ZC dunk, kmaren gk keburu beli infolinux neh :((
Zencafe I Love It
wah kapan bikin musium Linux aja
lumayan 🙂 disini ada Fujitsu FMV 7000 dipasang PCLINUX OS dan Beryl hadooh lancar banget.
ha ha ha
tak saranin pakai Slack atau Zenwalk atau Zencafe gak mau katanya susah, mending pakai Ubuntu atau pclinux .
Slackware emang un-buntu 😀
maap nanay disini, soalnya tidak ada halaman kontak.
Saya ada 2 HD, secondary master di pasang pclinux dan secondary slave rencananya mau dipake zencafe.
Lewat bios, boot diatur lewat cd , kemudian ke sdb . Sda ( pclinux disable ).
Pada saat installasi ZenCafe, hd sda terdeteksi, tapi saya mempergunakan sdb dan mengformatnya manual lewat cfdisk /dev/sdb .
Pada saat memilih swap , saya pilih swap saya di sdb, tapi di konfirmasi installer swap terpilih sdb2 dan sda2 ( milik pclinux).
Lanjut, dan installasi selesai, sukses.
Setelah reboot dan membuang cd installer, saya atur boot lewat bios menjadi boot 1st ke sdb1 saja.
Splash.bmp dari ZenCafe sudah nongol, tapi kemudian muncul masalah. ZenCafe tidak bisa booting. Saya lupa mencatatnya, tapi sepertinya ZenCafe tidak bisa menemukan file /dev/tmp.0 dan kemudian malah mempergunakan file config boot pclinux , dan masuk ke shell dari pclinux dengan anjuran menjalankan perintah untuk memperbaiki superblock.
Saya ini gak paham2 amat dengan Linux, jadi apa masalah saya ada pada si superblock atau karena kesalahan installasi? .
Mohon bantuannya.
Dengan Hormat,
dengan email ini saya mohon bantuan dr teman2 AWALI, saya akan
membangun warnet linux di kampung saya. sampai hari ini br tahap
persiapan. adapun persiapan yang telah saya lakukan adalah sbb:
1. tempat , di rumah pribadi yang beralamat di Kringikan, Kenaiban,
Juwiring Klaten.
2. komputer denga spek all intel pentium 4
3. bandwith yg di sewa 64Kbps
4. sistem operasi Zencafe 1.2
Mohon penjelasan sbb:
1. Konfigurasi billing system pada Zencafe (Server+Client)
2. Konfigurasi Webcam USB untuk instant messenger (pidgin/Gyachoo)
3. Konfigurasi & cara mendapatkan Gyachoo Messenger
4. Keteranga pendukung lainnya.
Terimakasih atas bantuannya.
Wassalam
Hormat Saya
Muhammad Sholih Hamdani
PARADOS Internet Caffe
Klaten
@Kus, untuk swap, ga bermasalah pake barengan om, malah sebenernya kalaupun ada multi OS linux ga perlu kita bikin tiap linux satu swap. cukup satu aja. Untuk masalah booting, ane sendiri blom nyobain yang namanya pake 2 harddisk terus pilihnya via bios. Kemungkinan kek yang ente perkirakan, karena klo kita pake auto pada saat pilihan lilo, zencafe akan selalu mencari sda1. ngakalinnya booting pake cd zencafe trus pada saat menu installasi keluar, mounting partisi yg udah terinstall zencafe trus chroot ke partisi tersebut. edit lilo.conf kemudian di lilo -v.
@Muhammad Sholih, agak sulit untuk menjelaskan di kolom yang terbatas ini om, klo mo enak ngobrol langsung aja di irc.dal.net di channel #awali biar bisa puas medapatkan jawabannya, lagipula enaknya kan bisa sambil di guide nginstallnya, ga usah khawatir, banyak kok sekarang pakar zencafe nongkrong disana xixiixixixi
Ikut nanya,Om
di zencafe 1.2 ku aku pasang dua cd/dvd rom
Pirmary: dvd rom udah kebaca otomastis
Secondary: cd rw blom kebaca
Setingnya biar kebaca gimana, ya?
Mohon petunjuknya
Tuengkyu.
@pradna, coba edit /etc/fstab nya om pradna, masukkan cd-rw nya disana.
Nah /etc/fstab ini om, yang aku utak-atik dari kemaren sebelum tanya Njenengan.
Kan disitu kl dvd rom tertulis:
"/dev/sr0 /mnt/dvd iso9660 noauto,user,ro 0 0"Kira-kira kl cd-rw ku sama iso-nya?Apa harus aku bongkar dan liat fisik cdrom-nya?
Kalo pake Ubuntu, langsung aja kebaca dua cd-rom itu sih (tapi buat P3 RAM128 agak ngos-ngosan, jadi pake zencafe 1.2 :)
Maap ngrepotin lagi (nubie kejar tayang ;)
Tuengkyu.
di sekolah saya pcnya pada uzur semua, paling cocok ya distro linux berbasis xfce yang user friendly… salah satunya saya install zencafe, setelah selesai kok internernya gak autodetect, bagaimana mas cara agar konek ke internet? sekolah saya pake telkom speedy. mohon petunjuknya, karena sudah terlanjur cocok dengan zencafe… please…
@pradna, klo emang masih ada configurasi punyanya ubuntu klo mo gampang copy aja configurasi fstabnya ke zencafe 😉
@almadinahsalatiga, ane kurang jelas dengan koneksi spidi anda, apakah internetny dari komputer kedalam modem menggunakan kabel UTP ataukah menggunakan USB. Klo menggunakan UTP (Modem Router, ADSL kebanykaan menggunakan ini) Zencafe secara default menggunakan DHCP sebagai koneksi Internetnya. coba buka Zenpanel > Network Settings. Apply ulang, ganti hostname sesuai hostname komputer anda.
Salam hangat untuk mas hardiena.
mas saya baru install linux pertama kali, langsung saya coba zencafe 1.4, setelah baca sana-sini cara buat live cd-nya berhasil juga nyawa zencafe 1.4 diPc koe.
ada pertanyaan… maklum baru pemula menggunakan linux. saya habis donlot (adesklets) –xfce4 dan paket plugins. (Biar tambah cakep tampilan desktopnya) xfce4 ok plugins udah saya extract. sekarang tinggal panggil *.py
1.Bagaimana cara saya bisa panggil *.py…?? (lewat apa? terminal? sintaksnya bgm?) mgkn bisa membantu.
terimakasih
Mas A.Hardiena.
Saya menginstall Zencafe 1.4 dan Windows dalam satu hardisk.
Saya ingin pilihan default booting bukan pada Windows tapi di Zencafe. Tolong diajari ngedit Lilonya soalnya saya awam banget dengan linux. kalo bisa jawabanya kirim ke e-mail saya.
Trims
Mas,
Saya pake Komputer AMD Sempron 2800 RAM 720 mb (sisanya share ma vga) mb GigaByte, koq gak jalan yach, instal bisa, setelah ada pilihan windows atau zencafe (dual os) terus pilih zencafe, abis itu lampu num lock capslock scroll lock nyala semua (kedap kedip) trus komputernya diem aza. Gmana solusinya? apa emang gak bisa di install di Sempron 2800 (Amd64)?
Thanks
@Andri, terus terang ane sendiri blom pernah coba di 64bit (keterbatasan sarana), yg jelas memang zencafe didisain untuk 32bit. coba sharing dengan temen-temen lainnya di irc.dal.net di #awali mungkin ada yg pernah coba.
Wah bro ente keren banget dah :thumbup:
Mas aku pake dual os Windows & Zencafe, gimana merubah pilihan default nya agar bisa langsung masuk Zencafe.
Thx
“Zencafe Oke!!!”
weeeks…. keren juga laptop jaman jebot bisa masuk OS yang lumayan uptop date. taks cobain ahh di kompi jadul pentium 2 (heran… ini kompi masih aja bisa jalan…ckckck)
bang w mw aktivin 3d dimeni di komputer w
gmn ci cra’a
soalnya saya mw maen game online g bsa”
harus aktivdulu 3d nya
gmna nh cra’a biar caya bsa men game online’a
kh tw dnk cra aktivin 3d’a di komputer saya biar saya bsa maen game online’a
mksh 🙂